Meraih Mimpi

Suatu ketika di salah satu sekolah negeri di malang, pada waktu itu hari masih pagi. Di sudut kelas sembilan ramai terdapat anak-anak pada berkumpul. Ternyata mereka sedang membicarakan teman mereka yaitu Vio.
” Jangan-jangan…. Apa yang diisukan teman-teman benar ,” kata Tasya.
” Maksud kamu Vio menghabiskan uang kita ?” Nina mencoba menebak.
” Wah … kalau benar, bisa berabe nih ,” ujar Tasya. Tasya berjalan lunglai memasuki kelas.
” Tasya, kamu tidak usah cemberut dong. Bagaiman kalau kita bertiga bayar uang buku lagi?” usul Nina.
” Kamu kira aku ini bank. Aku tidak mau,” jawab Tasya sewot.
” Payah kamu, Tasya. Maksud saya kita bertiga membayar uang buku lagi. Bayarnya langsung ke kantor, yang penting kita bisa ikut ujian. Dengan syarat, si sial Vio harus mengembalikan uang kita,” kata Nina.
” Ayolah Tasya, kamu setuju tidak ?” tanya Dina.
” Terserah kamu berdua deh ,” kata Tasya.
” Nah, gitu dong baru namanya teman. Ya tidak, Nin ?” kata Dina.
” Akur …,” ketiganya tersenyum.
Ujian semester selesai. Vio bergegas ke luar kelas.
” Vio, jangan lupa besok bawa uang Tasya ,” kata Dina dengan sinis. Wajah Vio memucat, namun hanya sesaat. Ia masih terpaku, kalau saja Ocha tidak menepuk bahunya.
” Kamu melamun ?” tanya Ocha.
” Eh, oh … tidak ,” Vio berusaha menutupi kegugupannya.
” Minum es dulu yuk ,” ajak Ocha. Mereka menuju kantin. Ocha berkata,”Kamu tahu tidak, kalau teman sekelas kita menjauhi kamu .” (Vio diam.)
” Mengapa sih kamu nekat berbuat sebodoh itu ?” tanya Ocha.
” Cha, kalau aku harus terus terang, kamu tidak akan menertawakan aku, kan ?” tanya Vio sambil menunduk.
” Tidak. Percaya deh, rahasiamu akan aman di tanganku. Asal …”
” Asal apa, Cha ?”
” Asal kamu berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi. Kamu bisa ?”
Vio mengangguk. Lalu Vio bercerita. ”Cha, aku memang jahat. Aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku ingin seperti Dina dan kelompoknya. Bisa jajan tiap hari, dikelilingi orang-orang karena mentraktir teman. Aku sebenarnya sadar. Aku tak bisa seperti mereka. Maklum Cha, keluargaku serba pas-pasan. Aku sedih tidak punya uang buat mentraktir teman-teman. Karena itu aku nekat, makan uang buku kalian. Tanpa sadar aku harus menyetor kepada Pak Bimo. Hingga hari yang mengerikan itu datang. Pak Bimo menagih uang buku sebelum membagikan kartu ujian. Aku bingung Cha, tidak tahu harus berbuat apa.”
” Vio, terus terang aku terharu mendengar ceritamu. Ketahuilah Vio, apa yang kamu lakukan itu merupakan kesalahan besar,” Ocha berhenti sejenak. Ia memandang sederetan semut di dinding lalu menatap Vio.
”Kamu mengerti mengapa aku memandangi semut itu ? Coba pikirkan, jika semut itu memaksa diri untuk mengangkat roti. Padahal roti itu besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Semut itu tidak akan mampu mengangkat sendirian. Kamu mengerti sekarang ?” tanya Ocha. (Vio mengangguk.)
” Begitu juga dengan kita. Janganlah memaksa diri melakukan sesuatu di luar kemampuan kita ! Kita akan menderita. Sesungguhnya Tuhan telah memberi kita bakat yang berharga. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya. Aku percaya kamu mempunyai bakat juga. Aku dengar kamu jago mengarang. Mengapa tidak kamu coba mengirimnya ke majalah? Siapa tahu diterima, terus dimuat. Itu dapat kamu gunakan untuk membantu keluargamu. (Vio tersenyum.)
” Dari mana kamu tahu aku bisa mengarang?”
” Vio …, telingaku ada dimana-mana,” kata Ocha menyombongkan diri.
” Benarkan, kamu jago mengarang?” tanya Ocha. Vio mengangguk.
” Wah, kamu hebat dong! Kirimkan saja karanganmu itu ke majalah. Kalau karanganmu dimuat, bukan kamu saja yang senang, orang tuamu, aku, dan teman-teman juga senang. Kamu bisa menjadi idola kelas. Kamu tidak perlu berbuat bodoh seperti kemarin,” kata Ocha.
” Aku senang mempunyai teman seperti kamu, Cha. Tapi, …”
” Tapi apa Vio?” tanya Ocha.
” Besok aku harus mengganti uang buku Dina, Nina, dan Tasya. Aku belum sanggup,” kata Vio. Ocha tersenyum.
” Jangan kuatir. Aku bersedia membantumu. Apalagi kamu sudah menyadarinya.”
” Terima kasih, Ocha ,” kata Vio.
” Sudahlah jangan dipikirkan, mari kita pulang ,” kata Ocha.
Vio dan Ocha pulang dengan perasaan lega. Berharap kejadian itu tidak akan terulang kembali. Dan memberikan motivasi buatnya untuk lebih berarti menjalani hidup. Karena hidup ini bukanlah mimpi, maka raihlah mimpi dari hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: